Sabtu, 21 Januari 2012

perbanyakan tanaman secara vegetatif dan generatip


PENDAHULUAN
I.             Latar Belakang
Tanaman perlu pembiakan dalam rangka mempertahankan jenisnya dan peningkatan produksinya. Ada dua cara pembiakan tanaman ialah: (1) Secara generatif/reproduktif (secara kawin) dengan menggunakan benih (biji yang memenuhi persyaratan sebagai bahan tanaman; (2) Secara vegetatif (secara tak kawin) dengan menggunakan organ vegetatif.
A.  Pembiakan Generatif
        Pembentukan biji melalui proses penyerbukan (jatuhnya tepung sari pada kepala putik) kemudian dilanjutkan dengan pembuahan (peleburan antara gamet jantan dari tepung sari dan gamet betina dari putik).
        Dalam kontek  agronomi, benih sebagai bahan tanaman merupakan biji yang diproduksi, diproses, dan diuji dengan metode standar sehingga memenuhi persyaratan sebgai bahan tanaman. Peran teknologi benih (merupakan rangkaian kegiatan sejak produksi, pemanenan, pengeringan, pengolahan/prosesing, pengujian sampai dengan sertifikasi benih) sangat strategis dalam rangka penyediaan benih bermutu dalam jumlah dan saat yang dibutuhkan.
B.  Pembiakan Vegetatif
        Cara pembiakan vegetatif meliputi: (1) Secara alami dengan penggunaan biji apomiktik (terbentuk tanpa pembuahan dan merupakan bentuk vegetatif) dan penggunaan organ-organ khusus tanaman (hasil modifikasi batang atau akar, misalnya: bulb, tuber, rhizome, dll); (2) Secara buatan dengan stimulasi akar dan tunas adventif ialah ”layerage”, ”cuttage”, atau setek, penyambungan tanaman dan kultur jaringan.
        Pada ”layerage” stimulasi saat organ vegetatif masih bersatu dengan tanaman, misalnya, ”layerage” di atas tanah (cangkokan). Stimulasi pada setek saat organ vegetatif sudah dipisahkan dari tanaman, misalnya setek akar, setek batang, setek daun, dan setek tunas/mata tunas.
Pengertian penyambungan adalah menyambung suatu bagian tanaman (pupuk/mata tunas) pada bagian tanaman lain sehingga menyatu dan tumbuh menjadi tanaman baru. Penyambungan tanaman bisa dalam bentuk ”grafting” (batang atas berupa pucuk), budding atau okulasi”(batang atas berupa mata tunas), susuan (saat penyambungan batang bawah dan atas masih pada tanaman masing-masing.
Salah satu keuntungan penyusuan tanaman adalah tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Dibandingkan pada ”grafting” dan okulasi. Disamping itu daya adaptasi tanaman batang atas dapat lebih luas. Dibanding tanda batang bawah spesies tanaman lain. Apabila dalam budidaya tanaman ada kesulitan dalam menggunakan benih dan berbagai cara perbanyakan vegetatif, maka penggunaan bibit dari kultur jaringan dianggap jalan keluar yang perlu ditempuh.
 
PEMBAHASAN
A.     Perbanyakan secara Generatif
Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menanam biji yang dihasilkan dari penyerbukan antara bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina (kepala putik). Secara alami proses penyerbukan terjadi dengan bantuan angin atau serangga. Namun, saat ini penyerbukan sering dilakukan manusia, terutama para pemulia tanaman untuk memperbanyak atau menyilang tanaman dari beberapa varietas yang berbeda.
Keunggulan tanaman hasil perbanyakan secara generatif adalah sistem perakarannya yang kuat dan rimbun. Oleh karena itu, sering dijadikan sebagai batang bawah untuk okulasi atau sambungan. Selain itu, tanaman hasil perbanyakan generatif juga digunakan untuk program penghijauan di lahan-lahan kritis yang lebih mementingkan konservasi lahan dibandingkan dengan produksi buahnya. Bahkan, kegiatan budidaya tanaman sayur dan beberapa jenis buah-buahan semusim seperti semangka dan melon tetap menggunakan bibit biji yang berasal dari perbanyakan secara generatif, tetapi bibit yang digunakan merupakan bibit-bibit unggul atau bibit biji varietas hibrida yang kualitas dan kuantitas buahnya tidak diragukan lagi.
Sementara itu, ada beberapa kelemahan dari perbanyakan secara generatif, yaitu sifat biji yang dihasilkan sering menyimpang dari sifat pohon induknya. Jika ditanam, dari ratusan atau ribuan biji yang bersal dari satu pohon induk yang sama akan menghasilkan banyak tanaman baru dengan sifat yang beragam. Ada yang sifatnya sama, atau bahkan lebih unggul dibandingkan dengan sifat pohon induknya. Namun, ada juga yang sama sekali tidak membawa sifat unggul pohon induk, bahkan lebih buruk sifatnya. Keragaman sifat ini terjadi karena adanya pengaruh mutasi gen dari pohon induk jantan dan betina.
Kelemahan lainnya, pertumbuhan vegetatif tanaman hasil perbanyakan secara generatif juga relatif lambat. Karena diawal pertumbuhannya, makanan yang dihasilkan dari proses fotosintesa lebih banyak digunakan untuk membentuk batang dan tajuk tanaman. Akibatnya, tanaman memerlukan waktu yang lama untuk berbunga dan berbuah. Contohnya tanaman mangga, durian, lengkeng, manggis atau duku yang berasal dari hasil perbanyakan secara generatif, baru akan berbuah setelah 8-10 tahun setelah tanam.
Dikenal dua tipe yaitu biji :
1.               Biji ortodoks, yakni biji yang dapat disimpan dalam waktu lama sebelum dikecambahkan,contohnya akasia, sengon, sawokecik, jati, cemara gunung, ulin, merbau dan lain-lain.
2.               Biji rekalsitran, yaitu biji yang tidak membutuhkan penyimpanan,disarankan setetah biji masak langsung ditabur pada bak persemiaan. Biji tipe ini biasanya memiliki kulit lunak, kandungan air tinggi serta tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama. Apabila disimpan terlalu lama akan menurunkan daya kecambahan. Contohnya: biji tanaman merantai, mahoni, nangka, pulai imba, turi dan lain-lain.
Kedua tipe biji yang berbeda tersebut menuntut perlak├╝an yang berbeda baik dalam cara penyimpanan, pemecahan penghambat kecambah (skarifikasi), dan penaburan dipersemaian. Dapat diterangkan ketika jenis tanaman  tersebut sudah masak baik secara fisik dan fisiologis maka biji segera dipanen. Setelah biji dipanen perlakuan lanjutan yang dibutuhkan adalah penaburan di bedeng semai.
Menurut Ardiant (2009), hal-hal yag perlu disiapkan dalam perbanyakan generative adalah :
a.       Menyiapkan Biji
Setelah biji dikeluarkan dari buah atau polongnya, bersihkan daging bauh dan lendir yang menempel agar tidak menjadi tempat tumbuhnya jamur. Untuk biji yang berukuran bersar seperti biji mangga atau durian, pembersihan cukup dilakukan dengan mencucinya menggunakan air bersih. Sementara itu, untuk biji berukuran kecil seperti biji jambu, atau biji yang terbungkus lapisan pembungkus (pectin) seperti biji pepaya, pembersihan dilakukan dengan meremas-remasnya menggunakan abu gosok sampai lendirnya hilang, lalu dicuci dengan air bersih.
Setelah bersih, biji diseleksi dengan melihat penampilan fisiknya. Biji yang memenuhi syarat sebagai benih adalah biji yang padat dan bernas, bentuk dan ukurannya seragam, permukaan kulitnya bersih dan tidak cacat. Kemudian biji hasil seleksi fisik direndam dalam air. Pilih biji yang tenggelam, karena ini menandakan daya kecambahnya lebih tinggi dibandingkan dengan biji yang terapung. Biij-biji inilah yang digunakan untuk memperbanyak tanaman secara generatif.
Sementara itu, untuk mencegah serangan penyakit, rendam biji di dalam larutan fungisida dan bakterisida seperti Benlate atau Dithane dengan dosis 2-3 gram/liter. Bisa juga menggunakan larutan formalin 4% atau sublimat 1% dengan dosis sesuai dengan aturan yang tertera di label kemasan.
Ada beberapa tanaman yang bijinya harus segera disemai setelah dikeluarkan dari buah atau polongnya. Biji seperti ini dikenal dengan biji rekalsitrans yaitu biji yang daya kecambahnya akan menurun jika disimpan terlalu lama, atau bahkan tidaka akan tumbuh jika dikeringkan. Contohnya adalah biji kemiri, meranti, mahoni, mangga, durian, dan nangka.
Namun, ada juga biji yang tetap berdaya kecambah tinggi walaupun sudah dikeringkan sampai kadar airnya hanya 5-10% dan disimpan dalam waktu yang lama. Asalkan dikemas dengan baik dan selalu terjaga suhu, cahaya dan kelembabannya. Biji seperti ini disebut biji orthodok. Contohnya adalah biji sayuran seperti cabai dan tomat; biji tanaman buah berumur pendek seperti semangka, melon, dan pepaya; serta biji tanaman kehutanan seperti jati dan sengon.
a.       Perlakuan Biji
Ada kalanya biji yang disemai lambat berkecambah bahkan tidak berkecambah sama sekali, walaupun media semainya sudah cocok. Hal ini disebabkan oleh dormansi yaitu keadaan terbungkusnya lembaga biji oleh lapisan kulit atau senyawa tertentu. Sebenarnya, dormansi merupakan cara embrio biji mempertahankan diri dari keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan, tetapi berakibat pada lambatnya proses perkecamabahan. Berikut ini jenis-jenis dormansi biji dan cara mengatasinya.
b.1 Dormansi Fisik
Dormansi fisik sering terjadi pada biji tanaman sayuran dan beberapa jenis tanaman kehutanan seperti sengon, akasia, jambu mete dan kaliandra. Penyebabnya adalah kulit biji yang tidak dapat dilewati oleh air. Cara mengatasinya, siram dan rendam biji dalam air panas selama 2-5 menit sampai kulitnya menjadi lebih lunak. Kemudian, rendam biji di dalam air dingin selama 1-2 hari agar air dapat menembus pori-pori kulit biji dan sampai ke embrionya.
b.2 Dormansi Mekanis
dormansi mekanis sering terjadi pada biji jati, kemiri, kenari, dan mangga. Penyebabnya adalah kulit biji yang terlalu keras sehingga sulit ditembus calon akar dan tunas. Pada biji mangga, dormansi ini dapat diatasi dengan menyayat dan membuang kulit bijinya. Sementara itu, pada biji yang terbungkus tempurung seperti biji kemiri dan kenari, dormansi mekanis dapat diatasi dengan membuang tempurungnya menjadi tipis, rusak atau retak agar mudah ditembus calon akar dan tunas. Caranya dengan mengetok pukul, mengikir-asah, menggesekkan pada lantai kasar, menggesek menggunakan kertas pasit, atau dengan membakarnya sebelum disemai.
b.3 Dormansi Kimia
dormansi kimia sering terjadi pada biji yang mengandung lapisan pektin seperti biji pepaya. Penyebabnya adalah adanya kandungan zat tertentu di dalam biji yang menghambat perkecambahan. Cara mengatasinya, rendam biij di dalam larutan Atonik dengan dosis 1 cc per 2 liter air selama 1 jam. Kemudian peram biji dengan gulungan kain basah selama 24 jam.
c. Penyemaian
Biji dapat disemai secara massal atau satu per satu. Jika disemai massal, wadah yang digunakan adalah bedengan. Jika disemai satu per satu wadah yang digunakan adalah wadah-wadah kecil seperti kotak kayu, polibag, pot plastik, keranjang kayu (besek), atau gelas bekas air mineral.
c.1. Penyemaian di Bedengan
Biji yang biasa disemai di bedengan adalah biji buah-buahan berukuran besar seperti mangga, advokad, nangka, cempedak, durian atau tanaman kehutanan yang memerlukan banyak bibit dalam pembudidayaannya sehingga tidak efisien jika disemai di dalam wadah-wadah kecil.
Lahan untuk bedeng semai dipilih yang permukaan tanahnya relatif rata, sistem drainasenya baik dan dekat dengan sumber air untuk penyiraman. Kemudian diolah dengan cara dicangkul sedalam 25-30 cm, lalu haluskan dan bersihkan dari gulma, sampah serta bebatuan. Setelah itu, buat bedeng semai dengan lebar 100 cm dan tinggi 30 cm atau lebih,. Panjang bedeng disesuaikan dengan kebutuhan dan luas lahan.
Sebaiknya bedeng semai dibuat ditempat terbuka dan menghadap ke arah utara-selatan agar mendapat sinar matahari penuh terutama di pagi hari untuk membantu mempercepat perkecambahan biji yang disemai. Untuk mencegah longsornya tanah bedeng, beri penahan dari belahan bambu di sekeliling bedeng semai.
Agar tanah bedeng semai menjadi remah dan subur campurkan pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos sebanyak satu kaleng minyak per meter persegi bedengan. Tambahkan juga pasir atau sekam padi dengan jumlah yang sama. Tanah bedeng semai yang remah dan subur membuat akar-akar tanaman muda tumbuh lurus dan rimbun, serta memudahkan pemindahan bibit ke media penyapihan atau ke lahan tanam yang sesungguhnya. Setelah itu, barulah biji disemai.
Untuk tanaman sayur dan tanaman hias, bijinya cukup ditebar diatas permukaan bedeng semai lalu ditutup lapisan tanah secara tipis agar tidak terbawa air saat penyiraman atau ketika turun hujan. Untuk menghindari serangan hama, taburkan insektisida dan nematisida berbahan aktif Carbofuran diatas permukaan bedeng semai.
Untuk tanaman buah-buahan dan tanaman kehutanan, bijinya dimasukkan ke dalam lubang tanam yang dibuat sedalam 7,5 cm dengan pola jarak 5-10 cm x 7,5 – 10 cm. Perlu diperhatikan, peletakan biji berukuran besar seperti biji durian, mangga, nangka atau advocad harus dengan posisi yang tepat. Bagian sisi calon tunas dan akar harus menghadap ke bawah. Jika terbalik, pertumbuhan akar dan batang membengkok sehingga mengganggu pertumbuhan bibit.
Setelah itu, lubang tanam ditutup tanah atau pasir setebal 1 cm. Tanah yang digunakan untuk menutup lubang tanam dicampur dengan insektisida dan nematisida berbahan aktif carbofuran seperti Furadan, Indofuran, dan Petrofur dengan dosis 10-20 gram per m2. Tujuannya adalah untuk menghindari serangan hama.
Untuk menjaga agar kelembabannya tetap tinggi, permukaan bedeng semai ditutup dengan jerami atau serbuk gergaji. Selain itu, diatas bedeng semai juga dipasang naungan berupa paraner, atap jerami, anyaman bambu atau daun kelapa untuk melindunginya dari sinar terik matahari dan air hujan. Jika naungan yang digunakan bukan paranet, pemasangannya harus dibuat condong ke arah barat agar bibit di persemaian cukup menerima sinar matahari pagi. Untuk itu, tiang naungan dibuat setinggi 120 cm di sebelah timur, dan 90-100 cm di sebelah barat. Naungan baru boleh dibuka setelah biji berkecambah tetapi bibit tetap harus disiram pada pagi atau sore hari. Lamanya perkecambahan biji di bedeng semai tergantung pada jenis tanamannya. Biji cabai atau tomat berkecambah 3-5 hari setelah semai. Biji tanaman buah seperti mangga atau durian, berkecambah 3-6 minggu setelah semai.
c.2. Penyemaian di Bedengan
Sebelum media dimasukkan, dasar wadah yang digunakan untuk menyemaikan biji harus diberi lubang, kecuali jika wadah yang digunakan berupa besek karena sudah memiliki lubang-lubang. Tujuannya melancarkan keluarnya air siraman sehingga tidak menggenang di dalam wadah. Setelah itu, wadah diisi dengan salah satu campuran media sebagai berikut berikut:
o   Campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir atau sekam dengan perbandingan 1:1:1
o   Campuran Spgagnum moss dan pasir dengan perbandingan 3:2
o   Campuran pasir, pupuk kandang, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1
o   Untuk menambah kesuburan, tiap 1 m3 campuran media tambahkan 2-3 kg TSP atau NPK yang telah dihaluskan, lalu disterilisasikan dengan menjemurnya selama 3-4 hari. Cara lain untuk mensterilkan media adalah dengan mengukusnya selama 30 menit pada suhu 750C atau bisa juga dengan menamburkan insektisida atau nematisida berbahan aktif carbofuran seperti Furadan, Curaterr, atau Petrofur dengan dosis sesuai dengan aturan yang tertera di label kemasan.
o   Setelah wadah dan media semai telah siap, barulah biji disemai. Cara penanaman dan jumlah biji yang disemai tergantung pada wadah yang digunakan.
o   Jika wadah yang digunakan adalah kotak kayu, biji cukup ditebar diatas permukaan media. Setelah itu, ditutup dengan lapisan tanah setebal 1 cm, lalu disiram sampai basah
o   Jika wadah yang digunakan berupa wadah-wadah tunggal seperti polibag, besek, pot plastik atau gelas kemasan air mineral, biji dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 1-3 butir per wadah. Namun, jika semua biji berkecambah, hanya satu bibit terbaik yang dipelihara sampai siap dipindahkan ke media penyapihan atau ke lahan tanam sesungguhnya.
o   Setelah itu, siram media semai sampai basah, lalu letakkan wadahnya di tempat terlindung. Misalnya, di bawah naungan pohon, di teras rumah atau dibuatkan naungan khusus dari paranet. Sementara itu, untuk menjaga agar media tetap lembab, permukaannya ditutup dengan kain dan disiram rutin dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Selain kain, penutup media berupa plastik dapat juga digunakan, tetapi harus dibuka terlebih dahulu saat melakukan penyiraman. Kain atau plastik penutup baru dilepas saat biji mulai berkecambah.
c.3. Penyemaian Menggunakan Coco Pot
Selain disemai menggunakan media tanah, biji dapat juga disemai di media non-tanah seperti coco pot atau rockwool. Biasanya media seperti ini dijual dalam kemasan tray, dan dilengkapi dengan pot-pot kecil sebagai wadahnya. Keuntungan memakai media ini adalah lebih praktis karena berukuran kecil, ringan serta lebih steril.
Sebelum digunakan, coco pot atau rockwool direndam terlebih dahulu di dalam air sampai mengembang lima kali lipat dari ketebalan awal. Biji yang disemai dimasukkan sebanyak 2-3 butir ke lubang yang tersedia di tengah media. Kemudian letakkan media ditempat yang teduh. Untuk menjaga lekembabannya, siram dua kali sehari pada pagi dan sore hari.
d. Penyapihan Bibit
Bibit yang tumbuh secara massal di bedeng semai biasanya tumbuh saling berdesakan karena rapatnya jarak penebaran biji. Oleh karena itu, sebagian bibit harus dipindahkan ke media penyapihan agr pertumbuhannya dapat berlangsung baik. Penyapihan juga dilakukan kepada bibit yang tumbuh di dalam wadah-wadah kecil atau media khusus non-tanah karena media ini tidak dapat menampung perakaran bibit yang terus berkembang.
Penyapihan bibit dilakukan di bedeng sapih atau di dalam polibag. Penyapihan di bedengan lebih cocok digunakan untuk bibit tanaman buah tahunan atau tanaman kehutanan. Sementara itu, bibit tanaman sayuran dan tanaman buah semusim seperti melon dan semangka lebih baik disampih di dalam polibag, karena hanya disapih selama 2-4 minggu sebelum tanam di lahan tanam. Media yang digunakan untuk penyapihan bibit adalah campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1:1:1.
Penyapihan dilakukan setelah bibit tumbuh setinggi 5-10 cm untuk tanaman berbiji kecil dan 15-20 cm untuk tanaman berbiji besar. Sebelum dipindahkan, lakukan penyeleksian bibit terlebih dahulu. Hanya bibit yang tumbuh subur dan kekar dengan perakaran lurus yang dipindahkan. Sementara itu, bibit yang tumbuh lambat, kerdil, tidak sehat dan perakarannya bengkok sebaiknya dibuang.
Pemindahan dilakukan dengan mengangkat bibit secara hati-hati dari persemaian beserta media yang ada di sekitar perakarannya. Usahakan tidak ada akar bibit yang putus atau rusak agar kondisinya tetap baik saat ditanam di media sapih. Untuk bibit yang tumbuh di bedeng semai tidak perlu dipindahkan semuanya, hanya untuk penjarangan. Sementara itu, sisanya tetap dibiarkan tumbuh di bedeng semai dan disampih sampai cukup besar untuk disambung, diokulasi, atau ditanam di lahan. Bibit yang tumbuh secara individual di dalam polibag tidak perlu dipindahkan sampai siap tanam di lahan. Bahkan , jika dijadikan batang bawah, penyambungan atau penempelan batas atas dapat dilakukan saat bibit masih berada di dalam polibag.
Sementara itu, untuk bibit yang tumbuh di gelas kemasan air mineral, wadahnya harus dilepas terlebih dahulu sebelum bibit ditanam di media penyapihan. Lakukan dengan hati-hati agar bola akar tidak terbongkar dan perakaran tidak terputus. Caranya dengan meremas-remas secara berlahan bagian luar wadah sampai media yang menempel di wadah terlepas. Kemudian, selipkan bagian batang bibit diantaranya jari telunjuk dan jari tengah tangan, lalu balikkan posisi wadah ke arah bawah, dan tarik ke atas secara perlahan sampai terlepas dari bola akar. Sementara itu, jika disemai menggunakan media tanam coco pot atau rockwool, bibit diangkat beserta medianya lalu pindahkan ke media penyapihan. Berikut ini langkah-langkah melakukan penyapihan.
1.      Penyapihan Di Bedengan.
Bedeng sapih dibuat sama dengan bedeng semai berukuran lebar 100 cm dan tinggi 30 cm. Namun di bedeng sapih dibuatkan lubang-lubang tanam sedalam 10 cm dengan jarak 75 x 75 cm. Jarak tanam ini sudah cukup untuk menjamin tumbuhnya bibit sehingga tidak saling bersentuhan sampai berumur 1-2 tahun.
Bibit yang telah diseleksi dari persemaian ditanam sebatas leher akar, lalu lubang tanam ditutup dengan lapisan tanah dan dipadatkan agar akar bibit dapat menyatu dengan tanah bedengan. Setelah itu, siram bedengan secukupnya, jangan terlalu basah atau air siraman jangan sampai menggenang.
Untuk melindungi bibit dari sengatan sinar matahari, beri naungan setinggi 180 cm di sebelah timur, dan 120 cm di sebelah barat. Awalnya naungan dibuat rapat agar intensitas cahaya matahari yang masuk hanya sekitar 50%. Namun seiring dengan perkembangan bibit, perlahan-lahan kerapatan naungan dikurangi sampai akhirnya dibuka seluruhnya.
Beri pupuk kandang setiap 2-3 bulan sekali agar pertumbuhan bibit semakin cepat. Selain ituk, setiap 1-2 bulan sekali tambahkan 100-150 gr NPK 15-15-15 ditambah 100 gr urea per bibit, atau campuran 50-100 gr urea, 200-40 gr SP-36 dan 50-70 gr KCl per bibit. Untuk mengatasi hama dan penyakit, semprotkan insektisida seperti Curacron, Pegasus atau Decis serta fungisida seperti Antracol, dan Dithane dengan dosis sesuai dengan aturan pakai yang ada dikemasannya.
Saat sudah besar, bibit di bedeng sapih dapat ditanam di lahan atau di pot permanen untuk pembesaran. Pemindahannya harus dilakukan secara hati-hati agar akar bibit tidak rusak atau terputus. Oleh karena itu bola akarnya tidak langsung dicabut tetapi digali secara bertahap. Caranya, gali media di setengah lingkaran bola akar sebelah kiri, baru setelah itu gali media di setengah lingkaran bola akar sebelah kanan. Setelah itu, angkat bibit dan bungkus bola akarnya dengan karung plastik agar tidak pecah.
Untuk bibit yang dijadikan batang bawah, penyambungan atau okulasi dengan batang atas dapat dilakukan di bedeng sapih. Umur batang bawah siap sambung bervariasi antara 1-24 bulan, tergantung pada jenis tanamannya. Sebagai contoh, jeruk dapat diokulasi saat berumur 1 bulan; mangga, durian dan advocad dapat disambung sejak usia 2-3 bulan. Sementara itu, manggis baru dapat disambung saat berumur 24 bulan.
2.      Penyapihan Dalam Polibag
Penyapihan ini paling baik dilakukan karena memudahkan proses pemindahan bibit ke lahan pembesaran atau saat pengangkutan. Ukuran polibag yang digunakan sebagai wadah menyapih bervariasi tergantung pada jenis tanamannya. Untuk bibit sayuran dan buah-buahan semusim, digunakan polibag berukuran 10 x 15 cm. Sementara itu, untuk bibit tanaman buah tahunan digunakan polibag yang lebih besar; berukuran 15 x 20 cm, 15 x 30 cm atau 20 x 30 cm. Proses penyambungan atau okulasi tersebut dilakukan di dalam polibag sehingga bibit harus tetap berada di polibag dalam waktu cukup lama, 1-2 tahun.
Sebelum digunakan, 2/3 bagian polibag diisi dengan media, lalu dibuat lubang tanam tepat di tengah media. Bibit ditanam sebatas leher akar. Jika akar tunggang bibit terlalu panjang, potong terlebih dahulu agar sesuai dengan ukuran polibag. Kemudian, tutup lubang tanam dengan sisa media dan padatkan agar bibit dapat berdiri tegak.
Selama penyapihan, bibit disiram rutin dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Penyiraman sebaiknya dilakukan menggunakan gembor atau gayung yang cucuran airnya dihambat dengan telapak tangan agar media tidak terbongkar atau terbawa air siraman. Satu bulan sekali bibit diberi pupuk daun dengan kandungan N tinggi seperti Bayfolan, Gandapan Maxima, Gandasil D, Growmore atau Hyponex Hijau dengan dosis satu sendok per bibit. Untuk mengatasi hama dan penyakit, semprotkan insektisida seperti Curacron, Pegasus, atau Decis serta fungisida seperti Antracol dan Dithane dengan dosis sesuai dengan aturan pakai di kemasannya.
Rangkaian teknik perbanyakan generatif yang dilakukan dalam kehutanan antara lain sebagai berikut (Anonim 1, 2009) :
1. Pengunduhan Buah/Biji
Biji yang sudah masak secara fisik dan fisiologis dipanen dengan cara dipanjat / diambil dengan galah. Pada beberapa jenis tertentu biji yang sudah masak dibiarkan jatuh dari pohonnya kemudian dikumpulkan dari lantai hutan.
2. Seleksi Buah/biji
Biji yang telah dipanen kemudian dipilih yang bernas, tidak kosong, sehat dan tidak diserang hama/penyakit. Cara pemisahannya dapat dilakukandengan perendaman dalam air, dimana biji yang terapung dibuang. Seleksi yang lain dapat dibedakan berdasarkan besar kecilnya biji maupun bentuknya
3. Penyimpanan Biji
Biji yang termasuk kategori biji ortodoks disimpan dalam suhu dan wadah tertentu untuk menjaga kelembaban udara dan kadar airnya. Biasanya biji dimasukkan ke dalam kantung plastik kemudian disimpan dalam lemari berpendingin (DCS= Dry Cool Storage). Dengan cara penyimpanan yang tepatdiharapkan kelembaban dan kadar air dalam biji dapat dipertahankan dalam waktu tertentu sampai biji tersebut ditabur.
4. Penaburan biji
Jenis biji rekalsitran yang tidak memerlukan waktu simpan yang lama segera disemaikan dalam bak tabur. Perlakuan pada tingkat persemaian yang perlu diperhatikan adalah kecukupan air, media yang sarang (porous), interisitas sinar matahani dan kelembaban udara.
5. Penyapihan
Dalam waktu tertentu biji yang tetah ditabur akan memuncutkan tunas tanaman. Setelah muncul daun muda yang sempurna segera pindahkan tanaman dan bak persemaian ke dalam polybag yang berisi campuran media tanah dan pupuk kompos. Tempatkan ke dalam areal persemaian yang memiliki intensitas cahaya matahari 50-75%, lakukan penyiraman secukupnya dan berikan pupuk dasar agar menunjang pertumbuhan tanaman.
6. Pemeliharaan dan Perawatan sampai dengan siap tanam
Tanaman dipelihara antara lain dengan pemberian pupuk, pembersihan dari gulma, penyemprotan dengan insektisida/fungisida ketika tanaman diserang hama/jamur dan pemeliharaan lainnya. Lama pemeliharaan ditingkat semai bervaniasi antara 4-6 bulan sampai siap tanam.
Skarifikasi Biji
Biji buah tanaman hutan memiliki bentuk dan ukuran yang bervaniasi. Dan bebenapa bentuk tersebut sering dijumpai biji yang memiliki kulit keras yang menghambat perkecambahan. Teknik pemecahan kuLit biji ini disebut skanifikasi.
Cara skarifikasi yang digunakan antara lain:
  1. Pengamplasan untuk menipiskan bagian bakal tunas.
  2. Penjemuran dan perendaman biji secara bergantian, untuk memperlakukan biji seekstrim mungkin sehingga kulit biji menjadi pecah. Dengan demikian diharapkan air dan udara dapat masuk dalam biji untuk mempercepat munculnya tunas.
  3. Pemecahan kulit yang tebal atau pengupasan sebagian kulit, agar biji dapat berkecambah.
  4. Peng-ovenan biji dalam suhu tertentu.
  5. Perendaman dalam larutan kimia tertentu, antara lain asam suLfat (H7S04) dan Asam klonida (HCl).
B.     Perbanyakan Secara Vegetatif
Pembiakan vegetatif adalah bibit yang dihasilkan dari bagian vegetatif tanaman (pucuk, batang dan daun). Keuntungan dari pembiakan ini adalah pembiakan bibit dapat dilakukan secara masal, lebih mudah, kualitas tanaman yang sudah seragam (Widarto, 1996). Dengan metode ini, pohon induk dapat dipertahankan sebagai sumber genetik (konservasi) dan dibuatkan kopinya sebagai sumber eksplan (bahan tanaman) selanjutnya.
Metode yang diperlukan dan cocok bagi setiap jenis tanaman sangatlah berbeda, hal tersebut tergantung sifat fisiologis tanaman pada bagian batang, pucuk ataupun daunnya. Tahapan-tahapan umum yang penting untuk disiapkan setelah menemukan pohon-pohon induknya, seperti :
1. Pembuatan Kebun Pangkas
Kebun pangkas (sumber bahan vegetatif) dapat berasal dari anakan, bibit biji maupun dari hasil vegetatif yang ditanam dekat areal pembuatan bibit dan dirawat secara intensif. Bentuk kebun pangkas bisa berupa kebun pangkas bedengan, kebun pangkas revolving cutting technique (RCT) meranti dan kebun pangkas mini (contoh pada jati) (Gambar 1, 2 dan 3).
Pemeliharaan kebun pangkas meliputi pemupukan dengan dosis N tinggi dengan dosis (50 - 100) gr/pohon untuk merangsang pertumbuhan tunas setelah dipangkas, selain itu pemberian insektisida maupun fungisida. Pemberian pupuk dilakukan setelah pemangkasan dan fungisida ataupun pestisida apabila terlihat serangan.
2. Tempat tumbuh biakan vegetatif
Tempat tumbuh yang diperlukan disesuaikan dengan jenis tanaman dan metode yang digunakan (setek, okulasi, sambung dan grafting), masing-masing memerlukan kondisi khusus. Sedangkan untuk cangkok dapat dilaksanakan pada kondisi alam terbuka hanya waktu dan medianya perlu diperhatikan.
Beberapa model tempat tumbuh yang telah digunakan dalam pembuatan bibit, diantaranya ADH1 (Abidin dkk, 2007), KOFFKO (Subiakto et al,2005) dan rumah kaca dengan masing-masing kriteria yaitu :
a.             Model ADH1 dimana pengendalian intensitas cahaya, suhu dan kelembaban secara manual (Gambar 4).
b.            System KOFFKO digunakan untuk jenis-jenis yang memerlukan kondisi khusus seperti intensitas cahaya yang optimal, kondisi suhu yang stabil, dengan kelembaban tinggi (hampir seluruh jenis meranti). System ini menggunakan otomatik kontrol yang bekerja berdasarkan sensor kondisi suhu, pada saat suhu meningkat dari target maka system pengkabutan akan bekerja. Karena dalam pengkabutan menggunakan air maka digunakan sungkup agar bahan tanaman tidak membusuk (Gambar 5).

c.             Pembuatan okulasi dapat dilaksanakan di dalam rumah kaca atau di persemaian, berupa bedengan dengan naungan yang cukup untuk menghindar dari penguapan maupun curahan air hujan (Gambar 6).
3. Metode Pembiakan Vegetatif
a.       Setek (daun, pucuk, tunas, batang, akar, umbi)
b.      Cangkok (sayat, belah, tip layering)
c.       Sambung/grafting (whip, splice, side, cleft, wedge, bark, inlay approach, bridge)
d.      Okulasi/budding (T-budd/shield, patch, I-budd, chip)
e.       Kultur jaringan
4. Zat Pengatur Tumbuh
Tujuan menggunakan ZPT adalah mempercepat induksi akar pada tumbuhan sehingga waktu dapat dipersingkat untuk mendapatkan bibit, walaupun terbukti ada beberapa tanaman tidak memerlukannya seperti pada ulin.
Kandungan terpenting yang harus ada dalam ZPT adalah IBA (Indole–3 butyric acid) dan NAA (Napthalene acetamide (NAD), Methyl–1–Napthaleneacetit acid (MNAA), Methyl–1–Napthaleneacetamide (MNAD) dan Tetramethylthiuram disulfide (Thiram)
5. Media
Untuk pembibitan secara vegetative terutama untuk setek dan cangkok dapat menggunakan campuran media alami (tanah, pasir, air), pupuk organik (kotoran binatang, tanaman) atau limbah organik (sabut kelapa, sabut kelapa sawit, arang sekam padi, gambut). Media diperlukan untuk berpijak tanaman, mampu mengikat air dan unsur hara, mempunyai drainase dan aerasi yang baik, dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar tanaman, tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman, mudah didapat dan harganya relatif murah.
Sedangkan untuk pembibitan secara kultur jaringan diperlukan 2 macam media dasar yaitu sebagai media multiplikasi tunas dalam keadaan steril (dalam laboratorium) menggunakan media agar dengan penambahan gula, unsur mikro, unsur makro dan ZPT. Pada kondisi aklimatisasi dan pembibitan dapat menggunakan media alami seperti pada media pembibitan lainnya dan ditempatkan di persemaian.
6. Keberhasilan
Keberhasilan pembibitan secara vegetatif ini tergantung pada kompabilitas (kesesuaian) antara metode dan jenis tanamannya. Seperti terlihat pada Tabel 1. bahwa ada jenis yang dapat diperbanyak dengan semua metode akan tetapi terkadang hanya satu atau dua metode saja.
Tabel 1. Rangkuman Hasil Perbanyakan Bibit Secara Vegetatif

 
KESIMPULAN
1.      Perbedaan utama antara perbanyakan secara generative dan vegetative adalah bahan yang digunakan. Pada perbanyakan generative bahan yang digunakan berupa biji yang dihasilka dari penyerbukan (kawin), sedangkan perbanyakan vegetative menggunakan organ tanaman yang lain selain biji (tidak kawin) seperti batang, daun.
2.      Keuntungan dan kelemahan perbanyakan secara generative dan vegetative
Perbanyakan generatif (biji)
Keuntungan:
    • Sistem perakaran lebih kuat.
    • Lebih mudah diperbanyak.
    • Jangka waktu berbuah lebih panjang.
Kelemahan:
    •  Waktu untuk mulai berbuah lebih lama.
    • Sifat turunan tidak sama dengan induk.
    • Ada banyak jenis tanaman produksi benihnya sedikit atau benihnya sulit untuk berkecambah.
Cara perbanyakan vegetatif
Keuntungan:
    • Lebih cepat berbuah.
    • Sifat turunan sesuai dengan induk.
    • Dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan.
Kelemahan:
    • Perakaran kurang baik.
    • Lebih sulit dikerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu.
    • Jangka waktu berbuah lebih pendek.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, A.Z., Danu, dan Budi B. (2007) : Stasiun Penelitian Nagrak. Publikasi Khusus, Vo. 6(5) Desember 2007. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor. Bogor.
 
Anonim 1. 2009. Teknik Perbanyakan Generatif Tanaman Hutan.http://www.wargahijau.org/index.php?option=com_content&view=article&id=497:teknik-perbanyakan-generatif-tanaman-hutan&catid=8:green-industry&Itemid=13. Diakses Pada hari Senin tanggal 22 Maret 2011.
 
Ardianat. 2009. Perbanyakan Tanaman Secara Generatif.http://ardiant181.wordpress.com/2009/01/08/perbanyakan-tanaman-secara-generatif/. Diakses Pada hari Senin tanggal 22 Maret 2011.
 
Danu, Agus A.P. dan Nurmawati S. 2006 : Atlas Benih Jilid VI, Perbanyakan Vegetatif Beberapa Jenis Tanaman Hutan. Edisi Khusus 5(5). BPTP, Bogor
 
Diantina, M. 2008 : Pengaruh ZPT dan perbedaan tinggi cangkokan untuk mempercepat induksi akar ulin (Eusideroxylon zwageri et B). Skripsi sarjana kehutanan, Fak. Kehutanan, IPB, Bogor.
 
Djam’an, D.F., Agus A.P., Danu, Kurniawati P.P., Hero Dien P.K. dan Gatot L. 1999 : Teknik Perbanyakan Secara Vegetatif Beberapa Jenis Pohon untuk pembangunan hutan rakyat. LHP (293), Balai Teknologi Perbenihan, Bogor.
 
Djam’an, D.F., Danu, Agus A.P. 2003 : Kajian Kriteria Perbanyakan Tanaman Hutan Secara Vegetatif. LHP (400), Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan, Bogor.
 
Djam’an, D.F., Aris R., dan Abay 2008 : Keberhasilan cangkok jenis mimba (Azadirachta indica). Klik Benih 1 (Oktober 2008), Balai Penelitian Teknologi Perbenihan, Bogor.
 
Effendi, R. 2008 : Pemanfaatan kebun pangkas kadaluarsa sebagai sumber bibit berukuran besar. Majalah Kehutanan Indonesia, ed. III (2008), Departemen Kehutanan, Jakarta.
 
Hartman, H.T., Dale E.K., and Fred T.D,Jr. 1990 : Plant Propagation. Principles and practices. 5th ed. Prentice- hall, Inc. New Jersey.
 
Subiakto, A., Chikaya S., Susilo P., dan Taufiqurahman 2005 : Teknik perbanyakan stek jenis-jenis Dipterokarpa secara masal. Seminar Nasional Peningkatan produktivitas hutan, ITTO Project PD 106/01 Rev. 1(F). Jogyakarta.
Widarto, L. 1996 : Perbanyakan Tanaman dengan biji, stek, cangkok, sambung, okulasi dan kultur jaringan. Penerbit Kanisius. Jogyakarta.
 
Yunita, M.E. 2004 : Teknik Pembuatan cangkok ulin (Eusideroxylon zwageri Tet B) di Kebun Percobaan Nagrak, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Bogor. Skripsi sarjana kehutanan, Fak. Kehutanan, IPB, Bogor.